Perbedaan antara Cp dan Pp, Cpk dan Ppk

Dalam manual IATF tentang pengandalian proses secara statistik, ada 2 istilah yang membuat bingung banyak orang: Cpk dan Ppk. Bukan saja karena cara perhitungannya, tapi juga karena beberapa beberapa perusahaan automotive memakai istilah yang sering dipertukarkan antara Cpk dan Ppk. Ditambah dengan persyaratan 1,33 untuk Cpk dan 1,67 untuk Ppk yang dalam kondisi normal, angka itu seharusnya terbalik.

Mulai dari definisi. Apa itu Cp dan Pp?

Pp adalah parameter yang ‘jujur’ tentang perbandingan antara rentang toleransi terhadap rentang variasi. Dalam hal ini, rentang variasi adalah 6 dikali standar deviasi. Dalam perhitungan Pp, standar deviasi ini dihitung dari rumus standar deviasi yang sebenarnya, dari sample yang diambil secara acak. Dalam perhitungan statistik pada umumnya, standar deviasi inilah memang yang dipakai.

Lalu Cp? Cp adalah parameter yang ‘kurang jujur’. Walaupun perhitungannya sama dengan Pp, tapi standar deviasi dalam perhitungan Cp dihitung dari rumus R rata-rata / d2. R rata-rata dan d2 adalah konstanta. R adalah rentang dari subgroup-subgroup yang diambil dalam bagan kendali. Sub-group inilah yang menjadikan Cp ‘kurang jujur’. Mengapa? karena beda cara pengambilan sub-group, beda pula nilai R rata-rata. Contoh: Bila sub-group diambil dari produk yang diproduksi secara berurutan, nilai range pasti kecil dan akhirnya range rata-rata juga kecil. Maka nilai Cp akan besar (karena Cp berbanding terbalik dengan rata-rata R). Akan keliahatan bagus. Tapi Kalau proses tidak stabil, rata-rata range ini akan menyesatkan. Kalau kemudian (pada proses yang belum stabil), sub group diambil dari produk-produk yang diambil secara lebih acak (bukan dari produk yang dihasilkan secara berurutan), range nya akan membesar. Rata-rata range akan membesar dan nilai Cp akan mengecil. Itulah makanya nilai Cp akan menjadi ‘tidak jujur’ kalau diambil dari proses yang belum stabil.

Perbedaan antara Pp dan Cp diatas juga berlaku bagi perbedaan antara Ppk dan Cpk. Sebab Ppk dan Cpk hanya turunan dari Pp dan Cp.

Beberapa perusahaan automotive Jepang hanya meminta agar pemasoknya mengirim secara berkala nilai Ppk dari proses produksi mereka. Dan ini benar secara statistik. Dan praktis. Mengapa? Karena kalau mereka meminta Cpk, mereka juga perlu mendapat informasi yang cukup bagaimana subgroup-subgroup diambil dalam bagan kendali dan apakah proses sudah stabil atau belum.

Uraian diatas adalah masalah definisi dan ‘kejujuran’. Kalau mau ‘terus terang’, katakan saja Ppk nya. Cpk hanya untuk konsumsi pribadi.

Kebingungan yang lain: 1,33 untuk Cpk, 1,67 untuk Ppk.

Dalam manual IATF tentang pengendalian proses secara statistik, disebutkan bahwa sistem produksi harus mencapai Ppk minimal 1,67 pada masa awal produksi dan Cpk minimal 1,33 pada fase produksi normal. Bila mengacu pada cara perhitungan yang diuraikan diatas, angka ini harusnya terbalil. Ppk itu sudah jujur, nilainya apa adanya, lebih kecil dari Cpk. Tapi mengapa malah disyaratkan lebih besar? Cpk itu cenderung ‘membesar-besarkan’ prestasi proses produksi, tapi mengapa malah disyaratkan kecil?

Jawabannya adalah: Karena pada masa awal produksi, terutama fase trial production, dianggap bahwa kondisi-kondisi pada proses produksi itu diawasi dengan ketat dan dilakukan lebih hati-hati. Maka nilai kemampuan proses harusnya lebih besar. Bila dianggap Cpk yang dihitung adalah dari proses yang sudah stabil, maka Cpk akan sama juga dengan Ppk saat produksi normal. Dan persyartatan Ppk harus minimal 1,67 saat trial production harus minimal 1,33 saat produksi normal adalah logis adanya.

Baca juga: Mengenal bagan kendali

 

Leave a Reply